Ke arah manapun kita melemparkan harapan dan cita cita atau
sebuah keinginan, pasti akan didapatkan dan langsung dikaruniakan kepada
kita,karena Allah Maha Pemberi,…. Namun hal ini akan dikecualikan ketika Allah
memberikan sebuah pilihan atau kondisi lain diluar keinginan yang kita
tanamkan.
Hakikatnya adalah Allah Yang Maha
Pemberi, telah memberikan kondisi lain karena sebuah kebaikan buat kita yang
kondisi tersebut akan betul betul akan membawa manfaat yang lebih besar dan
lebih kompleks dengan apa yang kita inginkan,…. Disini telah terjadi system
konversi. Yang memungkinkan kondisi tersebut akan lebih berlaku dan efektif
dengan bakat dan karakter yang sudah di karuniakan Allah Swt kepada kita. Andai
pun kita diberikan sebuah kondisi seperti apa yang kita inginkan, ini hanya
merupakan sebuah kasih sayang Allah Swt saja pada makhluqNya, karena dengan
mengalami kondisi tersebut, dimungkinkan mahluk yang menerima karunia tadi akan
menyadari, betapa Allah Swt selalu mengkaruniakan hal (kondisi) yang sangat
besar manfaatnya buat makhluk tersebut.
Semua keinginan makhluk yang
dipintanya kepada Allah Swt. Sudah pasti terkabulkan. Baik disadari atau tidak
oleh makhluk yang bersangkutan. Apapun keinginan tersebut,… ??
Sebuah keinginan yang sudah pasti
didapatkan oleh makhluk tersebut adalah sebuah kepastian yang nyata. Dan tanpa
terkecuali….??!! Karena hal ini merupakan sebuah ketentuan Allah Swt,… dan
salah satu sifat Allah yang Agung yaitu Ar Rahman yaitu Yang Maha Pengasih….
Yang selalu memberikan karunia tanpa ke_ekslusifan golongan makhluk_Nya,….
Muslim, yahudi, majusi, nasrani, maupun atheis, semuanya akan diberikan
karuniaNya. Baik dipinta ataupun tidak..?!
Allah selalu memberikan yang
terbaik buat semua makhlukNya. Kalaupun beberapa makhluk tersebut tidak dapat
kebaikan dari yang didapatkannya, itu semata karena beberapa hal yang saling
terkait. Diantaranya adalah : jalan ikhtiarnya, takdir yang mengiringinya, atau
pilihan hidupnya.
Walau pada kenyataannya sebuah
takdir sudah ditetapkan oleh Allah Swt di lauhil mahfudz, tetapi dalam sebuah ikhtiar
akan diberikan sebuah pilihan yang mana pilihan yang dipilihnya akan dimudahkan
oleh Allah Swt dalam rangka mengiringi takdir hidupnya.
Keselamatan dan keberkahan sebuah
hidup hanya tergantung pada Ridho Allah Swt semata. Keridhoan Allah Swt tersebut
tercermin dari keteguhan dan kesungguhan yang disuguhkan oleh makhluk yang
bersangkutan. Semakin kita bersungguh sungguh dalam suatu hal, maka sebuah
keridhoan Allah Swt terpantul ke arahnya. Baik ataupun buruk ?! Allah Swt
selalu berkehendak dengan rangkaian sangkaan dan optimalitas kalbu para
makhlukNya. Ini adalah salah satu contoh ikhtiar yang dijalankan Makhluk yang
bersangkutan. Allah Swt selalu berkehendak dengan iradahNya dalam menyusun sebuah takdir para makhlukNya.
Dan ini sebuah contoh para makhlukNya diiringi oleh takdirnya makhluk yang
bersangkutan. Dan Allah berkendak dengan pilihan hidup para makhlukNya ketika
tercita cita oleh makhluk yang bersangkutan . Dan ini contoh ketika sebuah
iradah Allah Swt terpancar dari sebuah keinginan makhlukNya. Adalah sebuah
sifat Allah Yang termasyhur yaitu Ar Rahman.
Tinggal kita yang mempunyai
pilihan hidup seperti apa :
1. Jalan
Ikhtiar
2. Pilihan
hidup.
3. Mengiringi
takdir hidup
Jalan Ikhtiar
Jalan ikhtiar merupakan sebuah
rangkaian usaha dan upaya makhluk dalam memilih suatu kondisi yang
diinginkannya. Hal ini berlaku untuk di dunia saja. Tidak di perkara akhirat.
Karena perkara akhirat merupakan suatu ketetapan dan takdir yang murni dari
Allah Swt.
ambang batas ihktiar adalah tawakkal, dimana hal ini terkait dengan Firman Allah Swt " Allah tidak akan pernah memberikan cobaan diluar kemampuan para hambaNya".
maksudnya adalah bahwa batas ikhtiar lah yang menjadi kesanggupan hamba hamba Allah Swt untuk melakukan upaya, selebihnya adalah tawakkal.
bukanlah merupakan suatu kondisi tawakkal ketika kondisi ikhtiar (usaha) tidak dijalani.
ikhtiar juga adalah fitrah manusia yang menjadi salah satu rangkaian ketentuan Allah, karena setiap kondisi dilakukan, maka akan menciptakan suatu kondisi baru, dimana hal ini dinamaka hasil atau ketercapaian. dan sangat mustahil sekali tanpa hasil (sia sia) ketika manusia telah melakukan suatu usaha. karena hal ini bertentangan dengan ketetapan Allah,jika memang terjadi demikian, maka apalah artinya siang tanpa malam, apalah artinya kenyang tanpa makan, contoh lainnya adalah Berkembangnya Peradaban Manusia di abad ini adalah menandakan bahwa ketentuan Allah mutlak adanya.
ikhtiar merupakan suatu keharusan dan fitrah manusia, semua makhluk hidup melakukan hal ini.
dan ketika manusia tidak melakukan hal ini (ikhtiar), maka fitrahnya sebagai makhluk hidup sudah mulai padam.
Pilihan Hidup
Pilihan hidup adalah sebuah bentuk penetrasi ego terhadap rasa ingin,sebuah pilihan adalah selalu dilematis ketika ego manusia yang berbicara, lain halnya jika hati seorang muslim, maka tiada kata dilema. karena dilema itu pada dasarnya tercipta dari keragu raguan, inilah alasannya kenapa Rasululloh Saw berkata : " yang haram sudah jelas keharamnnya, dan yang halal juga sudah jelas halalnya, ada sesuatu yang berada diantara keduanya yaitu subhat (perkara yang samar), maka tinggalkanlah" dalam redaksi ini sudah jelas sekali bahwa kondisi yang samar atau ragu ragu sebaiknya ditinggalkan karna tidak akan membawa kebaikan, bukan karena dzat masalah tersebut, melainkan kondisi yang terkandung didalam masalah tersebut.
demikian juga dengan kehidupan, bahwa ketika kita dihadapkan pada sesuatu atau kondisi yang samar atau meragukan, alangkah baiknya ditinggalkan,karena selain menimbulkan was was juga akan memperlemah iman dan kurangnya komitmen dan dedikasi terhadap hal tersebut. kebaikan Manusia selalu terletak pada kewajibannya bukan pada keinginannya. dasar hidup sudah jelas terpampang dan terekam didalam al qur'anul kariim dan as sunah. maka dengan dasar ini manusia sesungguhnya tidak mengenal lagi pilihan hidup. karena pilihan hidup pada dasarnya adalah ungkapan rasa frustrasi pada kehidupan yang dijalaninya,kekurangan rasa syukur dan selalu mengingkari jutaan karunia Allah Swt. manusia tidak dalam kapasitas memilih hidup, tapi harus menjalani hidup sesuai dengan takdir yang diembannya. kata memilih sendiri artinya mempunyai kekuasaan dan kemampuan dalam hal tersebut, padahal manusia tidak sekali kali mempunyai kemampuan ataupun kekuatan dalam memilih hidup, karena kehidupan ini sendiri adalah pemberian (karunia ) dari Allah Swt, jiwa dan raga juga adalah titipan Allah Swt. maka apakah mungkin manusia dapat keistimewaan memilih dalam hidup.
jika kita menyadari perilaku manusia sekarang adalah sangat sangat tidak sopan dan sangat ingkar. kita bisa bayangkan jiwa dan raga, anak, isteri, harta, jabatan, dan teman, atau apapun itu yang bisa menghasilkan kesenangan dan keindahan dunia telah dikaruniakan kepada manusia sebagai HAMBA, namun masih saja sempet milih milih hidup, dan sempet sempetnya bersedih ketika diberikan kondisi yang tidak disukai,... ternyata manusia adalah makhluk paling yang manja.
Pilihan hidup adalah bukan kata yang tepat dalam hal ini, namun menjalani hidup adalah ungkapan yang bijaksana, karena dalam kalimat tersebut terkandung nilai nilai keagungan makhluk dan ke_ubudiyyahan. berikan ruang rasa pada batin untuk menjalani hidup dengan ikhlas dan penuh rasa syukur seberapa pun karunia yang diberikan pada kita, karena kita juga tidak pernah tahu, yang diberikan kepada kita itu sebuah karunia atau cobaan...??!!.
mari kita buka kesadaran kita terhadap kehidupan ini sejenak...dengan sebuah rangkaian realita ;
Yang Pertama : Allah yang menciptakan alam semesta dan kehidupan ini termasuk didalamnya systemNya (kudrahNya),artinya Allah yang lebih dan Maha Mengetahui setiap biji zarrah kebaikan yang terkandung dalam kehidupan ini... jadi Jelasnya hanya Allah Swt yang mengetahui nilai kebaikan dan Kandungannya disetiap dzat yang diciptakanNya. artinya kita pasti sudah sepakat bahwa Allah lebih Mengetahui Baik Dan Buruk setiap hal (zisim atau dzat) dari semua makhluk hidup disemesta ini, hal ini karena Allah Swt yang telah menciptakan semuanya.
Yang kedua : Manusia adalah ciptaan Allah Swt sehingga sudah pasti statusnya Hamba (pengabdi) yang harus siap dan rela diperintah atau membaktikan hidupnya kepada Allah Swt, karena Allah Swt adalah Khaliq atau Pencipta Manusia. dan semua hal yang diberikan Allah kepada hambaNya adalah sebuah karunia atau cobaan maka itu harus diterimanya apapun bentuknya.
Yang ketiga : Bahwa Allah Swt, adalah "Laisa kamitslihi Syaiun" yaitu tidak akan serupa dengan sesuatu. kata sesuatu disini adalah selain dari Allah, karena sebagai pencipta dan penguasa sudah seharusnya memiliki perbedaan dan derajat yang jauh lebih tinggi baik secara dzat atau sebagai zisim terhadap selainnya (ciptaannya). kalau seandainya mempunyai dzat yang sama, maka kemampuan menciptanya pasti diragukan, karena untuk mengolah atau menangani satu hal (mencipta atau menghasilkan sesuatu) membutuhkan kemampuan dan kekuatan serta daya yang jauh lebih baik dari yang akan diciptakannya.
maka kita sudah sepakat bahwa Allah tidak akan sama dalam dzat atau zisim dengan yang diciptakannya, sehingga semua hal atau sikap maupun watak atau tabiat manusia akan sangat berbeda sekali dengan Allah Swt.
Penjabarannya adalah ;
Allah Swt menyediakan semua hal terkait kebutuhan makhluk hidup di semesta ini, dan Allah Swt memberikan pada setiap makhluknya sesuai dengan porsinya masing masing, artinya adalah setiap makluk mempunyai unsur dan tabiat yang berbeda, dan sudah pasti karunia yang akan diberikan juga akan diseimbangkan dengan kebutuhan dzat atau zisim makhluk hidup yang bersangkutan, dan jika pada saatnya tiba (Yaumil Ba'ts) maka setiap hal yang berlebih dari fitrah makhluk tersebut akan di hisab dan diminta pertanggung jawabannya termasuk didalamnya adalah harta, jabatan, dll yang menghasilkan kesenangan duniawi.
ketika para makhluk ini dihisab atau disiksa di neraka atau diminta pertanggung jawaban di hari pembalasan tersebut adalah bukan karena Allah Swt Murka, hal ini berlangsung karena Allah mengasihi makhluk tersebut, karena noda dosa yang dilakukannya di dunia sudah membekas, dan harus dibersihkan sehingga layak menempati surga yang bersifat tenteram dan damai, karena sesungguh nya kedamaian dan ketenteraman manusia ketika didunia bisa didapatkan ketika melakukan ibadah (Shalat, puasa,dll), sehingga suasana hati ini sangat cocok dengan suasana surga. dan sangat bisa dibedakan didunia ini ciri calon ahli surga adalah, manusia tersebut tidak pernah merasa gusar, gundah, dan khawatir dengan kehidupan yang dihadapinya, karena hatinya terbalut rasa syukur.
ketika Manusia diberikan kondisi yang sulit atau yang lapang, hal ini adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. semua hal yang diberikan belum tentu merupakan karunia atau cobaan, hanya saja semua hal pemberian itu adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. contoh manusia yang keimanannya kuat ketika miskin namun keimanannya melemah ketika manusia itu diberikan harta, atau sebaliknya. maka kondisi manapun dasarnya adalah untuk melatih jiwa dan mental kita terhadap amanah hidup dan amalan apa saja yang mampu dipertanggung jawabkannya. semuanya ada nilai konsekwensi dan tanggung jawabnya yang sepadan dengan apa yang diperolehnya.
Manusia adalah sebagai makhluk Allah Swt yang harus senantiasa mengabdi dan menjalankan setiap Aturan, dan aturan ini adalah untuk kebaikan semua makhluk yang menjalaninya dan yang terkait dengannya. ketika manusia dihadapkan pada situasi atau kondisi tertentu, maka manusia harus dengan syukur menyambut kondisi dan situasi tersebut, karena dengan demikian manusia tersebut telah mengabdi dan patuh pada Allah Swt sebagai Khaliq, disamping manusia tersebut akan diberikan banyak hikmah karena disetiapjiwa yang tenang dan tenteram ketika berhadapan dengan masalah, maka akan menjadi juntaian hikmah dan mutiara pengetahuan bagi kalbunya. ketidak relaan lah yang membuat kondisi dan situasi tersebut dianggap sebagai masalah besar. manusia terssebut sering lupa..padahal masalah yang ada adalah milik Allah Swt, termasuk jiwa dan raganya manusia tersebut adalah milikNya, jadi kenapa mesti takut, khawatir, dan merasa gundah. nilai kebaikan yang dikandung dari sebuah penderitaan adalah sangat banyak dan berkah, sampai malaikat dilangit ke tujuh turut membacakan do'a dan shalawat manusia tersebut. Kesenangan yang diperoleh manusia di dunia ini adalah bentuk penderitaan dan beban yang akan ditanggungnya nanti di akhirat dan sebaliknya. jadi ketika manusia dihadapkan pada kondisi dan situasi yang tidak diinginkannya, kemudian manusia tersebut merasa kurang beruntung, atau merasa banyak Allah Swt sedang mengujinya, atau merasa bahwa kondisi tersebut adalah kondisi keterpurukan hidupnya, hal ini muncul karena malu dengan status sosialnya nanti,malu sama tetangga, malu sama teman, dan malu terhadap manusia lainnya...ini sangat salah sekali... Ingat Persepsi Manusia tidak akan sama dengan pandangan Allah (karena Allah lebih mengetahui kebutuhan makhluk yang sudah di ciptakanNya), jika manusia mempunyai pemikiran lain terhadap nasib dan takdir Allah, maka sudah jelas menentang dengan kudrahNya... jalan yang terbaik adalah mejalani hidup dengan rasa syukur dan ikhtiar ketika dibutuhkan. selebihnya pasrahkan pada Allah sang pencipta kondisi (tawakkal).
maka sudah sangat jelas bahwa sangkaan manusia tentang hidup dan kehidupan ini serta semua masalah yang melingkupinya adalah sangat berbeda dengan kenyataan (pandangan Syariah Islam), kecuali orang orang yang berpegang teguh dengan al qur'qnul karim dan as sunah.
ketika manusia dihadapkan pada kondisi dan situasi tertentu yang tidak diharapkannya, maka kondisi dan situasi tersebut adalah sarana tempaan (berlatih) batin, jiwa, serta mental manusia yang bersangkutan. diharapkan dengan melewati hal tersebut, maka akan lebih mampu dan lebih siap menghadapi situasi kemenangan. hal ini memang sudah ketetapan Allah, seperti yang pernah terrekam dalam Firman yang intisarinya adalah : setelah ada kesukaran, pasti ada kelapangan. hal inilah yang melatar belakangi system semesta berjalan dengan sistematik dan bagi manusia yang beriman, maka menghadapi apapun akan senantiasa tenang dan penuh dengan syukur,karena semua hal yang akan ditemuinya adalah sama saja kadarnya, karena semua hal butuh imbangan atau lawan atau padanan sehingga fitrah dan ketentuan kehidupan berjalan sewajarnya.
jadi marilah kita kawal kehidupan ini dengan penuh rasa syukur?!
jangan pernah kita diatur oleh masalah, tapai masalah yang harus kita atur??!!
jangan pernah mengikuti perasaan, perasaanlah yang harus mengikuti kita??!!
Jangan pernah merasa khawatir dan ragu, karena keraguan dan khawatir itu datangnya dari syetan??!!
Iringi takdir hidup kita dengan penuh rasa syukur, niscaya nikmat akan bertambah...
ambang batas ihktiar adalah tawakkal, dimana hal ini terkait dengan Firman Allah Swt " Allah tidak akan pernah memberikan cobaan diluar kemampuan para hambaNya".
maksudnya adalah bahwa batas ikhtiar lah yang menjadi kesanggupan hamba hamba Allah Swt untuk melakukan upaya, selebihnya adalah tawakkal.
bukanlah merupakan suatu kondisi tawakkal ketika kondisi ikhtiar (usaha) tidak dijalani.
ikhtiar juga adalah fitrah manusia yang menjadi salah satu rangkaian ketentuan Allah, karena setiap kondisi dilakukan, maka akan menciptakan suatu kondisi baru, dimana hal ini dinamaka hasil atau ketercapaian. dan sangat mustahil sekali tanpa hasil (sia sia) ketika manusia telah melakukan suatu usaha. karena hal ini bertentangan dengan ketetapan Allah,jika memang terjadi demikian, maka apalah artinya siang tanpa malam, apalah artinya kenyang tanpa makan, contoh lainnya adalah Berkembangnya Peradaban Manusia di abad ini adalah menandakan bahwa ketentuan Allah mutlak adanya.
ikhtiar merupakan suatu keharusan dan fitrah manusia, semua makhluk hidup melakukan hal ini.
dan ketika manusia tidak melakukan hal ini (ikhtiar), maka fitrahnya sebagai makhluk hidup sudah mulai padam.
Pilihan Hidup
Pilihan hidup adalah sebuah bentuk penetrasi ego terhadap rasa ingin,sebuah pilihan adalah selalu dilematis ketika ego manusia yang berbicara, lain halnya jika hati seorang muslim, maka tiada kata dilema. karena dilema itu pada dasarnya tercipta dari keragu raguan, inilah alasannya kenapa Rasululloh Saw berkata : " yang haram sudah jelas keharamnnya, dan yang halal juga sudah jelas halalnya, ada sesuatu yang berada diantara keduanya yaitu subhat (perkara yang samar), maka tinggalkanlah" dalam redaksi ini sudah jelas sekali bahwa kondisi yang samar atau ragu ragu sebaiknya ditinggalkan karna tidak akan membawa kebaikan, bukan karena dzat masalah tersebut, melainkan kondisi yang terkandung didalam masalah tersebut.
demikian juga dengan kehidupan, bahwa ketika kita dihadapkan pada sesuatu atau kondisi yang samar atau meragukan, alangkah baiknya ditinggalkan,karena selain menimbulkan was was juga akan memperlemah iman dan kurangnya komitmen dan dedikasi terhadap hal tersebut. kebaikan Manusia selalu terletak pada kewajibannya bukan pada keinginannya. dasar hidup sudah jelas terpampang dan terekam didalam al qur'anul kariim dan as sunah. maka dengan dasar ini manusia sesungguhnya tidak mengenal lagi pilihan hidup. karena pilihan hidup pada dasarnya adalah ungkapan rasa frustrasi pada kehidupan yang dijalaninya,kekurangan rasa syukur dan selalu mengingkari jutaan karunia Allah Swt. manusia tidak dalam kapasitas memilih hidup, tapi harus menjalani hidup sesuai dengan takdir yang diembannya. kata memilih sendiri artinya mempunyai kekuasaan dan kemampuan dalam hal tersebut, padahal manusia tidak sekali kali mempunyai kemampuan ataupun kekuatan dalam memilih hidup, karena kehidupan ini sendiri adalah pemberian (karunia ) dari Allah Swt, jiwa dan raga juga adalah titipan Allah Swt. maka apakah mungkin manusia dapat keistimewaan memilih dalam hidup.
jika kita menyadari perilaku manusia sekarang adalah sangat sangat tidak sopan dan sangat ingkar. kita bisa bayangkan jiwa dan raga, anak, isteri, harta, jabatan, dan teman, atau apapun itu yang bisa menghasilkan kesenangan dan keindahan dunia telah dikaruniakan kepada manusia sebagai HAMBA, namun masih saja sempet milih milih hidup, dan sempet sempetnya bersedih ketika diberikan kondisi yang tidak disukai,... ternyata manusia adalah makhluk paling yang manja.
Pilihan hidup adalah bukan kata yang tepat dalam hal ini, namun menjalani hidup adalah ungkapan yang bijaksana, karena dalam kalimat tersebut terkandung nilai nilai keagungan makhluk dan ke_ubudiyyahan. berikan ruang rasa pada batin untuk menjalani hidup dengan ikhlas dan penuh rasa syukur seberapa pun karunia yang diberikan pada kita, karena kita juga tidak pernah tahu, yang diberikan kepada kita itu sebuah karunia atau cobaan...??!!.
mari kita buka kesadaran kita terhadap kehidupan ini sejenak...dengan sebuah rangkaian realita ;
Yang Pertama : Allah yang menciptakan alam semesta dan kehidupan ini termasuk didalamnya systemNya (kudrahNya),artinya Allah yang lebih dan Maha Mengetahui setiap biji zarrah kebaikan yang terkandung dalam kehidupan ini... jadi Jelasnya hanya Allah Swt yang mengetahui nilai kebaikan dan Kandungannya disetiap dzat yang diciptakanNya. artinya kita pasti sudah sepakat bahwa Allah lebih Mengetahui Baik Dan Buruk setiap hal (zisim atau dzat) dari semua makhluk hidup disemesta ini, hal ini karena Allah Swt yang telah menciptakan semuanya.
Yang kedua : Manusia adalah ciptaan Allah Swt sehingga sudah pasti statusnya Hamba (pengabdi) yang harus siap dan rela diperintah atau membaktikan hidupnya kepada Allah Swt, karena Allah Swt adalah Khaliq atau Pencipta Manusia. dan semua hal yang diberikan Allah kepada hambaNya adalah sebuah karunia atau cobaan maka itu harus diterimanya apapun bentuknya.
Yang ketiga : Bahwa Allah Swt, adalah "Laisa kamitslihi Syaiun" yaitu tidak akan serupa dengan sesuatu. kata sesuatu disini adalah selain dari Allah, karena sebagai pencipta dan penguasa sudah seharusnya memiliki perbedaan dan derajat yang jauh lebih tinggi baik secara dzat atau sebagai zisim terhadap selainnya (ciptaannya). kalau seandainya mempunyai dzat yang sama, maka kemampuan menciptanya pasti diragukan, karena untuk mengolah atau menangani satu hal (mencipta atau menghasilkan sesuatu) membutuhkan kemampuan dan kekuatan serta daya yang jauh lebih baik dari yang akan diciptakannya.
maka kita sudah sepakat bahwa Allah tidak akan sama dalam dzat atau zisim dengan yang diciptakannya, sehingga semua hal atau sikap maupun watak atau tabiat manusia akan sangat berbeda sekali dengan Allah Swt.
Penjabarannya adalah ;
Allah Swt menyediakan semua hal terkait kebutuhan makhluk hidup di semesta ini, dan Allah Swt memberikan pada setiap makhluknya sesuai dengan porsinya masing masing, artinya adalah setiap makluk mempunyai unsur dan tabiat yang berbeda, dan sudah pasti karunia yang akan diberikan juga akan diseimbangkan dengan kebutuhan dzat atau zisim makhluk hidup yang bersangkutan, dan jika pada saatnya tiba (Yaumil Ba'ts) maka setiap hal yang berlebih dari fitrah makhluk tersebut akan di hisab dan diminta pertanggung jawabannya termasuk didalamnya adalah harta, jabatan, dll yang menghasilkan kesenangan duniawi.
ketika para makhluk ini dihisab atau disiksa di neraka atau diminta pertanggung jawaban di hari pembalasan tersebut adalah bukan karena Allah Swt Murka, hal ini berlangsung karena Allah mengasihi makhluk tersebut, karena noda dosa yang dilakukannya di dunia sudah membekas, dan harus dibersihkan sehingga layak menempati surga yang bersifat tenteram dan damai, karena sesungguh nya kedamaian dan ketenteraman manusia ketika didunia bisa didapatkan ketika melakukan ibadah (Shalat, puasa,dll), sehingga suasana hati ini sangat cocok dengan suasana surga. dan sangat bisa dibedakan didunia ini ciri calon ahli surga adalah, manusia tersebut tidak pernah merasa gusar, gundah, dan khawatir dengan kehidupan yang dihadapinya, karena hatinya terbalut rasa syukur.
ketika Manusia diberikan kondisi yang sulit atau yang lapang, hal ini adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. semua hal yang diberikan belum tentu merupakan karunia atau cobaan, hanya saja semua hal pemberian itu adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. contoh manusia yang keimanannya kuat ketika miskin namun keimanannya melemah ketika manusia itu diberikan harta, atau sebaliknya. maka kondisi manapun dasarnya adalah untuk melatih jiwa dan mental kita terhadap amanah hidup dan amalan apa saja yang mampu dipertanggung jawabkannya. semuanya ada nilai konsekwensi dan tanggung jawabnya yang sepadan dengan apa yang diperolehnya.
Manusia adalah sebagai makhluk Allah Swt yang harus senantiasa mengabdi dan menjalankan setiap Aturan, dan aturan ini adalah untuk kebaikan semua makhluk yang menjalaninya dan yang terkait dengannya. ketika manusia dihadapkan pada situasi atau kondisi tertentu, maka manusia harus dengan syukur menyambut kondisi dan situasi tersebut, karena dengan demikian manusia tersebut telah mengabdi dan patuh pada Allah Swt sebagai Khaliq, disamping manusia tersebut akan diberikan banyak hikmah karena disetiapjiwa yang tenang dan tenteram ketika berhadapan dengan masalah, maka akan menjadi juntaian hikmah dan mutiara pengetahuan bagi kalbunya. ketidak relaan lah yang membuat kondisi dan situasi tersebut dianggap sebagai masalah besar. manusia terssebut sering lupa..padahal masalah yang ada adalah milik Allah Swt, termasuk jiwa dan raganya manusia tersebut adalah milikNya, jadi kenapa mesti takut, khawatir, dan merasa gundah. nilai kebaikan yang dikandung dari sebuah penderitaan adalah sangat banyak dan berkah, sampai malaikat dilangit ke tujuh turut membacakan do'a dan shalawat manusia tersebut. Kesenangan yang diperoleh manusia di dunia ini adalah bentuk penderitaan dan beban yang akan ditanggungnya nanti di akhirat dan sebaliknya. jadi ketika manusia dihadapkan pada kondisi dan situasi yang tidak diinginkannya, kemudian manusia tersebut merasa kurang beruntung, atau merasa banyak Allah Swt sedang mengujinya, atau merasa bahwa kondisi tersebut adalah kondisi keterpurukan hidupnya, hal ini muncul karena malu dengan status sosialnya nanti,malu sama tetangga, malu sama teman, dan malu terhadap manusia lainnya...ini sangat salah sekali... Ingat Persepsi Manusia tidak akan sama dengan pandangan Allah (karena Allah lebih mengetahui kebutuhan makhluk yang sudah di ciptakanNya), jika manusia mempunyai pemikiran lain terhadap nasib dan takdir Allah, maka sudah jelas menentang dengan kudrahNya... jalan yang terbaik adalah mejalani hidup dengan rasa syukur dan ikhtiar ketika dibutuhkan. selebihnya pasrahkan pada Allah sang pencipta kondisi (tawakkal).
maka sudah sangat jelas bahwa sangkaan manusia tentang hidup dan kehidupan ini serta semua masalah yang melingkupinya adalah sangat berbeda dengan kenyataan (pandangan Syariah Islam), kecuali orang orang yang berpegang teguh dengan al qur'qnul karim dan as sunah.
ketika manusia dihadapkan pada kondisi dan situasi tertentu yang tidak diharapkannya, maka kondisi dan situasi tersebut adalah sarana tempaan (berlatih) batin, jiwa, serta mental manusia yang bersangkutan. diharapkan dengan melewati hal tersebut, maka akan lebih mampu dan lebih siap menghadapi situasi kemenangan. hal ini memang sudah ketetapan Allah, seperti yang pernah terrekam dalam Firman yang intisarinya adalah : setelah ada kesukaran, pasti ada kelapangan. hal inilah yang melatar belakangi system semesta berjalan dengan sistematik dan bagi manusia yang beriman, maka menghadapi apapun akan senantiasa tenang dan penuh dengan syukur,karena semua hal yang akan ditemuinya adalah sama saja kadarnya, karena semua hal butuh imbangan atau lawan atau padanan sehingga fitrah dan ketentuan kehidupan berjalan sewajarnya.
jadi marilah kita kawal kehidupan ini dengan penuh rasa syukur?!
jangan pernah kita diatur oleh masalah, tapai masalah yang harus kita atur??!!
jangan pernah mengikuti perasaan, perasaanlah yang harus mengikuti kita??!!
Jangan pernah merasa khawatir dan ragu, karena keraguan dan khawatir itu datangnya dari syetan??!!
Iringi takdir hidup kita dengan penuh rasa syukur, niscaya nikmat akan bertambah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar