كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
ۗ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik
umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat
segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk
dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar
iman). (Surah Ali `Imran:
110)
Kitab Zuhud Dan Kelembutan Hati
•
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah bersabda: Tiga
perkara yang akan mengiringi mayit, yang dua akan kembali dan yang satu akan
menetap. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya.
Keluarga dan hartanya akan kembali dan tinggallah amal perbuatannya. (Shahih
Muslim No.5260)
•
Hadis riwayat Amru bin Auf ra., ia berkata:
Bahwa Rasulullah mengutus Abu
Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena
Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan
mengangkat Alaa' bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali
dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu
Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau
beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan
bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari
Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah.
Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang
menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan
terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia
dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang
sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana
mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia
telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Bahwa Rasulullah bersabda:
Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta
dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya,
yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (Shahih Muslim No.5263)
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Bahwa ia mendengar Nabi
bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang,
seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka,
maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang
dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit)
yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik
kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia
diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa
yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi.
(Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu
malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian ia mendatangi
orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata:
Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku.
Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah.
Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi.
Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya
untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling
kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat
melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali
normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia
menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua
binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit
belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah
dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. Pada suatu ketika malaikat
kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti
ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber
rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan,
kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang
bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk
membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak
yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal
kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik
kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu
berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau
kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu
malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu
lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit
belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka
malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti
dahulu lagi. Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta
dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang
mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka
pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi
Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk
membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah
memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan
tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani
kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat
berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji,
kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah.
(Shahih Muslim No.5265)
•
Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Demi Allah, aku adalah orang
Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Kami pernah berperang
bersama Rasulullah dan tidak ada makanan yang dapat kami makan selain daun
hublah dan daun samur (dua macam tanaman padang pasir), sehingga kotoran kami seperti
kotoran kambing. Kemudian keesokan harinya Bani Asad mengajariku pengetahuan
agama. Kalau demikian, sungguh aku telah gagal dan usahaku sia-sia. Dan Ibnu
Numair tidak mengatakan: Kalau demikian. (Shahih Muslim No.5267)
•
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah,
keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga
malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274)
•
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Kami, keluarga Muhammad sering
hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya
hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)
•
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah wafat, di
lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti
gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk
beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim
No.5281)
•
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah wafat ketika
orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284)
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Demi Tuhan yang jiwaku berada
dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu
Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat
keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai
beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286)
1. Janganlah memasuki daerah
kaum yang menganiaya diri mereka sendiri, kecuali dengan menangis
•
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda
kepada Ashabul Hijr: Janganlah kamu sekalian memasuki daerah kaum yang telah
disiksa, kecuali jika kamu sekalian menangis. Kalau kamu tidak menangis,
janganlah memasuki daerah mereka agar kalian tidak tertimpa apa yang menimpa
mereka. (Shahih Muslim No.5292)
2. Berbuat baik kepada janda,
orang miskin dan anak yatim
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Dari Nabi saw. beliau
bersabda: Orang yang membiayai para janda dan orang miskin itu bagaikan seorang
pejuang di jalan Allah. Aku mengira beliau menambahkan: Dan bagaikan orang yang
selalu menjalankan salat malam tanpa henti atau bagaikan orang yang selalu berpuasa
tanpa berbuka. (Shahih Muslim No.5295)
3. Orang yang menyekutukan
Allah dalam amalnya (riya)
•
Hadis riwayat Jundub Al-Alaqiy ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda:
Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan
menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan
menampakkan riyanya. (Shahih Muslim No.5302)
4. Berucap satu kata buruk
akan jatuh ke dalam neraka
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah
saw. bersabda: Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk)
sehingga ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan
barat. (Shahih Muslim No.5303)
5. Siksaan orang yang
memerintahkan kebaikan, tetapi ia tidak mengerjakannya dan melarang berbuat
kemungkaran, tetapi ia mengerjakannya
•
Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw.
bersabda: Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka,
lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu
seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka
mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini,
bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab:
Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan
mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya. (Shahih Muslim No.5305)
6. Larangan membuka aib
sendiri
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya
kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam
kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di
malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada
temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah
menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan
ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup
Allah dari dirinya. (Shahih Muslim No.5306)
7. Mendoakan orang yang bersin
dan makruh menguap
•
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Dua orang bersin di dekat
Rasulullah saw., beliau mendoakan salah seorangnya dan membiarkan yang lain.
Orang yang tidak didoakan itu berkata: Si Fulan bersin kemudian engkau
mendoakannya, tetapi aku bersin, engkau tidak mendoakanku. Beliau bersabda:
Orang ini memuji Allah tetapi kamu tidak memuji Allah. (Shahih Muslim No.5307)
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw.
bersabda: Menguap itu termasuk dari (gangguan) setan, maka jika seorang dari
kamu menguap, hendaklah ia menahan semampunya. (Shahih Muslim No.5310)
8. Tentang tikus jelmaan
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Satu
kaum dari Bani Israel telah hilang-lenyap tanpa diketahui sebab apa yang telah
dikerjakan dan tidak terlihat, kecuali (dalam bentuk) tikus. Tidakkah kamu
lihat, jika (tikus tiu) diberi susu unta, ia tidak meminumnya, tetapi jika
diberi susu kambing ia meminumnya. (Shahih Muslim No.5315)
9. Orang mukmin tidak boleh
dua kali jatuh dalam lubang yang sama
•
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau
bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.
(Shahih Muslim No.5317)
10. Larangan memuji secara
berlebihan dan dikhawatirkan dapat menimbulkan akibat buruk bagi yang dipuji
•
Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata:
Seorang lelaki memuji orang
lain di hadapan Nabi saw. maka beliau bersabda: Celaka kamu! Kamu telah
memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu! Beliau
mengucapkannya berulang-ulang. Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji
temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah
lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa
pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya
yang sebenarnya. (Shahih Muslim No.5319)
•
Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Nabi saw. mendengar seorang
memuji orang lain secara berlebih-lebihan, maka beliau bersabda: Sungguh kamu
telah membinasakannya atau telah memotong punggung orang itu. (Shahih Muslim
No.5321)
11. Tentang sikap berhati-hati
dalam menerima hadis dan hukum mencatat ilmu
•
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Dari Urwah ia berkata: Abu
Hurairah ra. pernah meriwayatkan suatu hadis dengan berkata: Wahai pemilik
kamar, dengarkanlah! Wahai pemilik kamar, dengarkanlah! Ketika itu Aisyah
sedang salat lalu setelah menyelesaikan salatnya, ia berkata kepada Urwah:
Apakah kamu tidak mendengar ucapan orang ini tadi? Karena sesungguhnya Nabi
saw. jika mengucapkan suatu hadis, jika ada yang menghitungnya, maka ia pasti
dapat menghitungnya. (Shahih Muslim No.5325)
Sumber info ;
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang sangat
terpercaya dalam ilmu hadits. Hadits-hadits beliau memiliki derajat yang
tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin
kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di
dunia merujuk kepadanya. Ia lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H.
Dipanggil dengan Abu Abdillah. Nama lengkap beliau Muhammmad bin Ismail bin
Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau digelari Al Imam Al
Hafizh, dan lebih dikenal dengan sebutan Al Imam Al Bukhari.
Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.
Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai
menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad,
Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam.
Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.
Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.
Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan
kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits
shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada
kesempatan yang lain beliau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti
dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al
Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau
masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari,
pent.)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab
yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.
Pengumpulan Hadist Imam Bukhari
Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits
shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai
kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya.
Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah,
Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering
bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari
sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau
mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu tepercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.
Namun tidak semua hadits yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu tepercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.
Karya Imam Bukhari
Berikut beberapa karya Imam Bukhari berupa kitab Hadist dan
kitab lainnya antara lain adalah:
- Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari
- Al-Adab al-Mufrad
- Adh-Dhu’afa ash-Shaghir
- At-Tarikh ash-Shaghir
- At-Tarikh al-Ausath
- At-Tarikh al-Kabir
- At-Tafsir al-Kabir
- Al-Musnad al-Kabir
- Kazaya Shahabah wa Tabi’in
- Kitab al-Ilal
- Raf’ul Yadain fi ash-Shalah
Dalam
meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi. Imam Bukhari
sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup
halus namun tajam. Kepada Perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu
dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri dari
hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia
menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang
diragukan kejujurannya. Dia berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang
diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan
hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi
yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.
Di sela-sela kesibukannya sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir. Bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.
Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran. Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah ) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”.
Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.
Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.
Di sela-sela kesibukannya sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir. Bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.
Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran. Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah ) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”.
Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.
Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.
Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar
Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa
Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing
orang lain).”
Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya
mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia
ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan
keshalihan”.
Al Farabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi
Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu
‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?”
Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”.
Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”
Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H.
ketika beliau mencapai usia 62 tahun (enam puluh dua tahun). Jenazah
beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah
Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.
Sumber ;
http://biografi.rumus.web.id/biografi-imam-bukhari/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar